Tak terasa waktu seperti peluru, melesat, menembus gumpalan sendu, haru, rindu kemudian mendarat manis pada satu dua tawa dan tiga cita. Tiap hari aku selalu ingat, pagi-pagi sekali suka beradu dengan waktu untuk bertaruh siapa yang lebih dulu berlari. Waktu tak pernah berpaling dan tak sekalipung menengok untuk sekedar peduli dengan rutinitas. Iya, waktu terus membayangi dan mengikuti tiap benda yang kulihat, anyaman-anyaman emosi yang ku rajut dikala pagi menjadi energinya berlari.
Kini waktu itu telah menjadi frame yang ku warnai hitam-putih agar tetap menjadi lukisan pagi dikala fajar belum memerah. Sebab, waktu telah banyak memberi arti dan mewarnai tiap lembaran kisah kain batik-hitam putih yang sekarang kulipat rapi-rapi dalam lemari. Kini pun waktu menjadi candi pada lembar bab sejarah. Agar nanti masih bisa kita tertawakan bers
ama ketika, mimpi telah bersaksi atas pelangi yang dulu kita tanam bersama dimuka pagi.
Terimakasih Yayasan Pupuk Kaltim, 14 tahun telah membesarkan dan merawat kami menjadi insan, dan memberi kami definisi 'budi' yang tiap saat didentingkan setiap seremoni pagi. Meski sekarang tak lagi bertemu, jangan lupa untuk terus berkirim emoticon tiap subuh agar bisa terjalin memori diantara kita.
Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Bersama lantunan doa
yang mengalir dalam khusyu dan tawadhu’
Izinkan aku mengaduk
Bismillah dengan Hamdalah
Untuk melepas rindu dan
kaku
Pada lembaran kisah yang sudah kau penuhi
Dengan qalam dan asa
yang selalu didengungkan
Teriring doa melintasi
senyum dan haru
Melihat engkau menjadi
penerang
Dalam ringkih tubuh
Berlari berjuang dan
kokoh tumbuh tinggi
Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Bersama derap langkah
satu dua lantas
Bersenandung pada
Sembilan sepuluh cita
“Bermimpilah setinggi
cakrawala
Berusahalah sekuat
baja, berjanjilah, kelak
Kau akan
mempersembahkan kejora
Yang berpijar abadi
dalam sukma”
Kemudian engkau menutup
doa
Dengan ruku’ dan sujud
Pada bentangan sajadah
Meski sekarang engkau
berdiri sendiri
Sebab lima belas tahun usang
tragedy suci menjawab panggilan illahi
Bagimu bukan halangan
menunaikan titipan Tuhan
![]() |
| 'Kampoeng Jawara' |
Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Aku masih ingin kau
peluk dan kecup!
Meski sekarang aku tak
seputih dulu
Noda dan nista
menyelimuti tubuh
Tetapi engkau tegar
enggan membalas
Partikel debu yang
terlontar dari lisan
Engkau malah rela
membanting tulang
Berjibaku dengan nasib
tak menentu
Sambil mengucap salam
mengantarku di depan pagar sekolah
Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Hari ini kutumpahkan
gelora pada setiap deretan Ilmu
Kuminta restu setiap kisah
yang dituturkan bapak ibu guru
Tentang seorang anak
yang kelak menabung pelangi
Kemudian engkau
mendekap sikut, pergelangan tanganku, tubuhku
Sehingga mereka tak
perlu cengeng minta reparasi.
Selamat Pagi Pak,
Selamat Pagi Bu!
Ingin kupersembahkan
orchestra melankolis untukmu
Sebab sebentar lagi
bentangan jarak menungguku, menunggumu
Dalam pertigaan,
perempatan, harapan dan masa depan
Aku berdoa lekat-lekat
pada Tuhan
Semoga kelak masih
dipertemukan denganmu
Agar kisah itu menjadi
candradimuka pada bab sejarah
Menjadi neuron pada
system saraf, dan penutup melodi dalam simfoni.
Dalam simpuh
kebersamaan ini,



