Semangatt! Sukses! Mulia!

Berlari Tiada Henti Mengejar Mimpi, Berbudi Memberi Arti pada Illahi.

Berhijrah Mengusung Cita dan Asa

Thursday, April 14, 2016

Tak terasa waktu seperti peluru, melesat, menembus gumpalan sendu, haru, rindu kemudian mendarat manis pada satu dua tawa dan tiga cita. Tiap hari aku selalu ingat, pagi-pagi sekali suka beradu dengan waktu untuk bertaruh siapa yang lebih dulu berlari. Waktu tak pernah berpaling dan tak sekalipung menengok untuk sekedar peduli dengan rutinitas. Iya, waktu terus membayangi dan mengikuti tiap benda yang kulihat, anyaman-anyaman emosi yang ku rajut dikala pagi menjadi energinya berlari. 
Kini waktu itu telah menjadi frame yang ku warnai hitam-putih agar tetap menjadi lukisan pagi dikala fajar belum memerah. Sebab, waktu telah banyak memberi arti dan mewarnai tiap lembaran kisah kain batik-hitam putih yang sekarang kulipat rapi-rapi dalam lemari. Kini pun waktu menjadi candi pada lembar bab sejarah. Agar nanti masih bisa kita tertawakan bers
ama ketika, mimpi telah bersaksi atas pelangi yang dulu kita tanam bersama dimuka pagi. 
Terimakasih Yayasan Pupuk Kaltim, 14 tahun telah membesarkan dan merawat kami menjadi insan, dan memberi kami definisi 'budi' yang tiap saat didentingkan setiap seremoni pagi. Meski sekarang tak lagi bertemu, jangan lupa untuk terus berkirim emoticon tiap subuh agar bisa terjalin memori diantara kita.

  


Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Bersama lantunan doa yang mengalir dalam khusyu dan tawadhu’
Izinkan aku mengaduk Bismillah dengan Hamdalah
Untuk melepas rindu dan kaku
Pada  lembaran kisah yang sudah kau penuhi
Dengan qalam dan asa yang selalu didengungkan
Teriring doa melintasi senyum dan haru


Melihat engkau menjadi penerang
Dalam ringkih tubuh
Berlari berjuang dan kokoh tumbuh tinggi

Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Bersama derap langkah satu dua lantas
Bersenandung pada Sembilan sepuluh cita
“Bermimpilah setinggi cakrawala
Berusahalah sekuat baja, berjanjilah, kelak
Kau akan mempersembahkan kejora
Yang berpijar abadi dalam sukma”
Kemudian engkau menutup doa
Dengan ruku’ dan sujud
Pada bentangan sajadah
Meski sekarang engkau berdiri sendiri
Sebab lima belas tahun usang tragedy suci menjawab panggilan illahi
Bagimu bukan halangan menunaikan titipan Tuhan


'Kampoeng Jawara'

Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Aku masih ingin kau peluk dan kecup!
Meski sekarang aku tak seputih dulu
Noda dan nista menyelimuti tubuh
Tetapi engkau tegar enggan membalas
Partikel debu yang terlontar dari lisan
Engkau malah rela membanting tulang
Berjibaku dengan nasib tak menentu
Sambil mengucap salam mengantarku di depan pagar sekolah
           
            Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Hari ini kutumpahkan gelora pada setiap deretan Ilmu
Kuminta restu setiap kisah yang dituturkan bapak ibu guru
Tentang seorang anak yang kelak menabung pelangi
Kemudian engkau mendekap sikut, pergelangan tanganku, tubuhku
Sehingga mereka tak perlu cengeng minta reparasi.

           Selamat Pagi Pak, Selamat Pagi Bu!
Ingin kupersembahkan orchestra melankolis untukmu
Sebab sebentar lagi bentangan jarak menungguku, menunggumu
Dalam pertigaan, perempatan, harapan dan masa depan
Aku berdoa lekat-lekat pada Tuhan
Semoga kelak masih dipertemukan denganmu
Agar kisah itu menjadi candradimuka pada bab sejarah
Menjadi neuron pada system saraf, dan penutup melodi dalam simfoni.

Dalam simpuh kebersamaan ini,

Terimalah peluk dan sujudku.